PANGKALPINANG – Di tengah gencarnya kampanye peningkatan kualitas sumber daya manusia dan lahirnya generasi berprestasi, publik justru dikejutkan oleh pernyataan yang memunculkan pertanyaan mendasar: apakah prestasi siswa benar-benar menjadi prioritas dalam kebijakan pendidikan daerah?
Pernyataan tersebut datang dari Alatas, pejabat di Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang, yang pada 15 Juni 2026 menjelaskan bahwa kegiatan Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tidak memiliki alokasi anggaran dari Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang pada tahun 2026.
Menurutnya, usulan anggaran untuk kedua kegiatan tersebut sebenarnya telah diajukan. Namun yang terealisasi justru hanya anggaran untuk Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N).
Pernyataan ini langsung memunculkan tanda tanya besar.
Sebab OSN dan O2SN bukanlah kegiatan insidental yang muncul secara mendadak. Keduanya merupakan agenda nasional tahunan yang telah lama menjadi sarana pembinaan siswa berprestasi di bidang akademik dan olahraga.
Pertanyaannya sederhana: jika kegiatan tersebut dilaksanakan setiap tahun dan telah diketahui jauh sebelum penyusunan APBD, mengapa justru tidak memperoleh alokasi anggaran?
Di sisi lain, berdasarkan dokumen perencanaan dan penganggaran pemerintah daerah, berbagai pos belanja operasional dan administratif tetap muncul dalam struktur anggaran.
Publik pun mulai membandingkan prioritas yang diambil.
Anak-anak yang berjuang mengharumkan nama daerah di arena sains dan olahraga disebut tidak memiliki dukungan anggaran khusus. Sementara berbagai aktivitas birokrasi tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Situasi ini memunculkan kritik yang semakin menguat di tengah masyarakat.
“Kalau memang anggaran terbatas, mengapa yang pertama kali hilang justru pembinaan prestasi siswa? Bukankah pendidikan seharusnya berpusat pada peserta didik?” ujar salah seorang pemerhati pendidikan yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Yang menjadi perhatian bukan semata-mata soal nominal anggaran, melainkan pesan kebijakan yang ditangkap publik.
OSN dan O2SN adalah wadah yang melahirkan calon ilmuwan, peneliti, atlet, dan generasi unggul daerah. Mereka bukan sekadar peserta lomba, melainkan investasi masa depan.
Karena itu, ketika program nasional yang menyentuh langsung siswa tidak mendapatkan dukungan anggaran yang memadai, sementara belanja administratif tetap tersedia, maka wajar jika muncul pertanyaan mengenai arah prioritas pendidikan daerah.
Ironisnya, setiap kali siswa berhasil meraih prestasi di tingkat provinsi maupun nasional, keberhasilan tersebut kerap menjadi kebanggaan bersama. Nama daerah ikut terangkat, pemerintah ikut menerima apresiasi, dan prestasi siswa menjadi bagian dari laporan keberhasilan pembangunan sumber daya manusia.
Namun publik kini mempertanyakan satu hal yang lebih mendasar: apakah proses menuju prestasi itu juga memperoleh perhatian yang sama besar?
Sejumlah pihak menilai Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang perlu memberikan penjelasan secara terbuka mengenai mekanisme penganggaran OSN dan O2SN, alasan tidak tersedianya alokasi anggaran khusus, serta sumber pembiayaan kegiatan yang tetap berjalan pada tahun 2026.
Transparansi dinilai penting agar tidak muncul spekulasi maupun persepsi bahwa program pembinaan talenta siswa hanya menjadi pelengkap slogan tanpa dukungan kebijakan yang memadai.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari banyaknya rapat, dokumen, dan program yang disusun, tetapi juga dari seberapa besar keberpihakan anggaran terhadap anak-anak yang membawa nama daerah di panggung prestasi.
Hingga berita ini diterbitkan, media masih membuka ruang konfirmasi dan hak jawab kepada Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang serta pihak terkait lainnya untuk memberikan penjelasan yang utuh dan berimbang sesuai ketentuan Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.


















