
Bangka Barat, (Journalcyber.online) – Aktivitas tambang timah kembali menelan korban jiwa di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pada Minggu pagi, 15 September 2024. Seorang penambang timah, Hendra Kading (21), warga Dusun Jebu Laut, Desa Kelabat, Kecamatan Parit Tiga, meninggal dunia saat menyelam untuk mencari timah.
Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa Hendra bekerja menggunakan ponton apung jenis selam miliknya sendiri. Saat sedang melakukan aktivitas menyelam di perairan Jebu Laut, ia tidak memberikan respons saat rekan kerjanya memberikan kode untuk kembali ke permukaan.
Menurut salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya, kejadian terjadi di area tempat Hendra biasa bekerja. “Lokasinya itu di sekitar perairan Jebu Laut, tempat dia bekerja menggunakan ponton apung jenis selam. Ponton tambang itu milik korban sendiri. Setelah menyelam, rekan korban memberikan kode, namun tidak ada respons,” jelasnya.
Sekitar pukul 10.00 WIB, rekan korban bernama Rian mencoba memberi kode kepada Hendra dengan menarik selang kompresor, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan dari bawah air. Setelah diperiksa lebih lanjut, Hendra ditemukan dalam kondisi tak sadarkan diri dan segera dievakuasi ke daratan.
Korban langsung dilarikan ke Puskesmas Sekarbiru oleh ayahnya dibantu warga setempat. Kepala Puskesmas Sekar Biru, Firly Prayuda, membenarkan bahwa Hendra Kading sudah dalam keadaan meninggal dunia saat tiba di fasilitas kesehatan tersebut.
“Benar, korban Hendra Kading (21) tiba di Puskesmas sekitar pukul 11.25 WIB. Sayangnya, korban sudah tidak bernyawa. Tidak ditemukan luka fisik, kemungkinan besar korban kehabisan oksigen akibat tertimpa tanah saat menyelam,” tutur Firly kepada pihak media.
Jenazah Hendra Kading kemudian dibawa ke rumah duka dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat dengan dihadiri keluarga serta warga desa.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kecelakaan di sektor pertambangan timah di Bangka Belitung, terutama di tambang-tambang yang menggunakan metode tradisional seperti ponton apung. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak berwenang terkait langkah preventif untuk mencegah terulangnya insiden serupa di wilayah tersebut.
(TIM JOURNAL)
















